Jangan Berjalan, Berlarilah! Kisah Perjalanan Running Man dari Variety Show Semenjana Hingga Jadi Legenda K-Pop Culture
Bagi para pencinta hiburan Korea Selatan, hari Minggu rasanya belum lengkap tanpa mendengar suara peluit ikonik, teriakan histeris saat nametag disobek, atau musik tema yang memicu adrenalin. Ya, kita sedang bicara tentang Running Man.
Secara rasional, mempertahankan sebuah program televisi mingguan selama lebih dari satu dekade adalah hal yang hampir mustahil di industri modern. Namun, Running Man berhasil membuktikannya. Di tahun 2026 ini, program garapan SBS tersebut telah bertransformasi dari sekadar acara permainan fisik menjadi salah satu pilar terpenting penyebaran Hallyu Wave di seluruh dunia.
Mari kita buka kembali lembaran sejarah, melihat bagaimana sekumpulan selebriti yang awalnya canggung ini bisa menjadi “keluarga” yang menemani pertumbuhan kita.
1. 2010: Langkah Awal yang Terseok-seok
Running Man pertama kali mengudara pada 11 Juli 2010. Di episode-episode awal, konsep mereka sebenarnya cukup sederhana namun menyiksa secara fisik: para anggota dikunci di dalam landmark terkenal Korea (seperti museum atau mal) sepanjang malam dan harus menyelesaikan misi untuk bisa keluar sebelum fajar.
-
Rating yang Rendah: Di awal kemunculannya, metabolisme acara ini belum terbentuk dengan baik. Ratingnya di Korea sempat tiarap dan menuai banyak kritik karena dianggap terlalu kaku dan melelahkan.
-
Proses “Glow Up” Karakter: Keajaiban mulai terjadi ketika para produser memberikan kebebasan bagi para anggota untuk mengembangkan karakter mereka sendiri. Yoo Jae-suk sebagai pemimpin yang cerdas, Kim Jong-kook si “Harimau” yang ditakuti, hingga duo Easy Brothers (Ji Suk-jin dan Lee Kwang-soo) yang sial tapi kocak.
2. Era Keemasan: Wabah “Nametag Ripping” Mendunia (2011 – 2015)
Ini adalah fase di mana Running Man tidak hanya menguasai Korea, tapi juga menjajah dunia internasional. Permainan menyobek papan nama (nametag ripping) menjadi tren global. Anak-anak di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, mulai menempelkan perekat di punggung mereka untuk meniru idola mereka.
-
Karakter Ikonik: Siapa yang bisa lupa dengan julukan Ace Ji-hyo, Commander Jong-kook, Icon of Betrayal Kwang-soo, atau romansa jenaka Monday Couple antara Gary dan Ji-hyo? Karakter-karakter inilah yang membangun ketenangan batin penonton lewat tawa yang tulus setiap pekannya.
-
Tur Internasional: Episode-episode yang syuting di luar negeri, seperti di Thailand, Vietnam, Australia, hingga Indonesia (di Taman Safari dan Yogyakarta), selalu disambut lautan manusia di bandara. Running Man bukan lagi sekadar acara TV; mereka adalah grup idola berwujud komedian.
3. Badai Kontroversi dan Perubahan Formasi (2016 – 2021)
Tidak ada jalan yang selalu mulus. Memasuki tahun 2016, Running Man dihantam badai besar. Dimulai dari mundurnya Gary untuk fokus pada bermusik, hingga kontroversi salah komunikasi dari pihak manajemen yang hampir membuat acara ini dihentikan total.
-
Darah Baru: Demi menyelamatkan program, Running Man memasukkan dua anggota baru pada tahun 2017: Yang Se-chan dan Jeon So-min. Masuknya mereka sempat ditolak sebagian fans fanatik, namun gaya tampilan So-min yang “gila” dan spontan justru memberikan napas baru bagi program yang mulai kedodoran secara fisik ini.
-
Pamitnya Sang Pangeran Asia: Tahun 2021 menjadi tahun patah hati nasional bagi fans Running Man. Lee Kwang-soo, yang sasis tubuhnya sudah babak belur akibat cedera kecelakaan, memutuskan mundur. Banyak yang meramal ini adalah akhir dari Running Man, mengingat Kwang-soo adalah salah satu motor komedi utama.
4. Masa Kini: Bertahan dengan Kedewasaan dan “Slow Living”
Loncati waktu ke beberapa tahun terakhir hingga hari ini, Running Man menunjukkan elastisitas yang luar biasa. Para anggotanya kini tidak lagi muda—Yoo Jae-suk dan Ji Suk-jin sudah melewati usia kepala lima.
Secara rasional, permainan fisik yang brutal seperti dulu sudah tidak mungkin dipaksakan demi kesehatan mereka. Oleh karena itu, konsep acara kini bergeser menjadi lebih santai. Fokusnya ada pada chemistry obrolan, permainan logika, psikologi (seperti mafia game), hingga konsep liburan domestik yang hangat.
Meskipun formasi kembali berubah (seperti mundurnya Jeon So-min beberapa waktu lalu), Running Man tetap memiliki basis massa yang sangat loyal. Menonton mereka sekarang rasanya seperti melihat paman dan bibi kita sendiri yang sedang berkumpul di akhir pekan—sederhana, penuh ejekan akrab, tapi sangat menenangkan jiwa.
Mengapa Running Man Bisa Bertahan Begitu Lama?
Secara sosiologis, kekuatan utama Running Man ada pada kejujuran hubungan mereka. Di depan kamera, mereka bisa saling mengkhianati, menjambak, atau menertawakan kemalangan satu sama lain. Namun di belakang kamera, ikatan mereka melampaui rekan kerja profesional; mereka adalah keluarga sejati.
Perubahan gaya hidup penonton yang kini lebih menyukai tontonan yang “ringan tapi nendang” berhasil diakomodasi oleh tim produksi yang terus berinovasi tanpa kehilangan esensi dasar acara: menghibur dengan ketulusan.
Kesimpulan: Garis Finish yang Masih Jauh
Sejarah awal mula Running Man adalah cerita tentang ketangguhan. Dari program yang hampir bungkus di tahun pertama, hingga menjadi salah satu variety show terlama dalam sejarah televisi Korea. Mereka mengajarkan kita bahwa ketika dunia menuntutmu untuk menyerah, pilihan terbaik adalah terus berlari.
Meskipun suatu saat nanti langkah mereka akan melambat dan mereka harus benar-benar berhenti berjalan, jejak kaki yang mereka tinggalkan di dunia hiburan global akan tetap abadi.
Dari sekian banyak episode Running Man, mana nih yang paling sering kamu tonton ulang kalau lagi butuh hiburan saat stres? Episode kekuatan super, atau episode horor di sekolah? Yuk, tulis memorimu di kolom komentar!